Wednesday, 13 November 2013

Short Story: Spring In JInhae





(Ilustrasi oleh Erry Juhana)





Minhae1, Min Ho-ssi, aku terlambat,” ucap Hana sambil membungkuk. Napasnya terengah-engah karena habis berlari.
Namja2 berpostur tinggi yang sedang menyusun bunga-bunga anemone itu terkejut “Oh, kau, Hana-ssi.” Saat menyadari yeoja3 dihadapannya seperti kehabisan napas, Min Ho segera menghampiri. “Kau baik-baik saja, Hana-ssi?”
Yeoja bertubuh mungil itu mengangguk. “Aku hanya kecapaian habis berlari, Min Ho-ssi.”
Min Ho mengamati Hana lalu tersenyum. “Sekarang ganti seragammu. Setelah itu bantu aku menyusun bunga-bunga ini.”
Setelah mengangguk pada Min Ho, Hana segera menuju ruang ganti pegawai. Hana mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja. Beberapa menit kemudian Hana sudah bergabung dan membantu Min Ho.
Min Ho meletakkan anemone terakhir, lalu tersenyum melihat bunga-bunga cantik di hadapannya. Setelah itu, dia duduk di bangku panjang kayu di sudut ruangan yang disiapkan sebagai tempat untuk beristirahat. Hana ikut duduk di sebelah Min Ho.
 “Tidak terasa besok sudah memasuki bulan April.” Min Ho menoleh pada Hana. “Jinhae pasti akan dipenuhi cherry blossom kan, Hana-ssi?”
Hana melihat pohon-pohon cherry blossom yang tumbuh di sepanjang jalan. Putik-putik berwarna putih sudah mulai bermunculan. Beberapa hari lagi, putik itu pasti akan mekar, dan menjadi cherry blossom yang cantik. Kota Jinhae akan menjadi  hamparan kota putih indah dengan pemandangan menakjubkan saat cherry blossom berguguran dan memenuhi segala sudut kota.
“Hana-ssi …” panggil Min Ho. Tapi, yeoja  itu tidak mendengarkan.
Kota Jinhae adalah tempat terbaik untuk menikmati keindahan musim semi di Korea. Apalagi dengan diadakannya festival tahunan musim semi, Jinhae Gunhangje Festival4, Jinhae pasti akan dipenuhi oleh para turis. Baik turis mancanegara, maupun dosmetik. Hana sudah tidak sabar menunggu datangnya musim semi untuk memandang keindahan cherry blossom. Hana selalu menyukai musim semi, musim dimana bunga-bunga bermekaran indah.
“Hana-ssi, kau mendengarkanku?” panggil Min Ho sekali lagi. Saat menyadari wajah tampan Min Ho di depannya, Hana langsung memalingkan wajahnya. Semburat merah merambat di pipi putihnya. Dia jadi salah tingkah karena kedapatan sedang melamun. Hana memainkan kuku jarinya untuk meredakan gelayar aneh di dadanya. Min Ho tersenyum melihat tingkah yeoja itu.
Seorang wanita tua gemuk masuk ke dalam toko. Min Ho segera bangkit, dan menyambut pembeli dengan senyum ramahnya. Hana memperhatikan Min Ho yang sedang melayani pembeli. Hana selalu suka melihat atasannya itu berbicara dan tersenyum saat melayani pembeli. Beberapa saat kemudian, Min Ho menghampiri Hana.
“Hana-ssi, tolong ambilkan bunga krisan untuk bibi itu. Aku ada janji dengan Hye Ri.”
Selalu yeoja itu! sungut Hana dalam hati.  
“Oh iya, Hana-sii, jangan lupa tersenyum di depan pembeli,” bisik Min Ho sambil menyelipkan setangkai ranunculus di tangan Hana. Hana terpaku  memandang bunga pemberian Min Ho. Saat dia mengangkat kepala namja itu ternyata sudah menghilang.
Rununculus lagi? Apa ini berarti Min Ho? Tidak mungkin. Min Ho kan sukanya pada Hye Rin.
***
            Kang Min Ho adalah putra bungsu pemilik Daisy Florist. Wajahnya tampan, dan berpostur tinggi tegap. Suka tersenyum dan ramah terhadap semua orang. Tatapan matanya tajam bak mata elang. Tapi, bisa berubah teduh laksana telaga. Tenang dan Mendebarkan. Dan, Kim Hana diam-diam menyukai atasannya itu.
            Hana pertama kali bertemu Min Ho di sekolah saat ajaran baru. Hana yang termasuk sebagai siswa baru, langsung jatuh hati pada Min Ho, yang ternyata seniornya di sekolah. Sejak itu, Hana selalu mencari cara untuk mendekati Min Ho. Saat tahu Min Ho bekerja di toko bunga milik keluarganya, Hana melamar untuk bekerja di toko bunga milik keluarga Min Ho. Dan, saat diterima, Hana sangat bahagia. Peluangnya untuk mendekati namja tampan itu semakin besar. Namun, semuanya tidak sesuai yang diharapkan Hana. Ini semua karena Shin Hye Ri. Yeoja cantik yang disukai Min Ho.
            Ugh … baru saja Hana memikirkan Hye Ri. Dan, sekarang yeoja cantik itu sudah berdiri di depannya. Dan, sekarang pasti Hye Ri ingin bertemu Min Ho.
Minhae, Hana-ssi, apakah Min Ho ada di sini?” tanya Hye Ri.
Hana mengangguk dengan ekspresi wajah tidak terbaca. “Min Ho di ruanh istirahatnya. Silakan saja masuk,” balasnya dingin.
 Ghamsahamnida5,” ucap Hye Ri sambil berlalu menuju tempat Min Ho. Lagi-lagi Hana hanya mengangguk, tanpa senyum.
Wajah Hana mendung. Tergurat jelas kekesalan dan kekecewaan di sana. Hatinya panas terbakar api cemburu. Apalagi saat memikirkan Min Ho sedang berduaan di ruangan tertutup bersama Hye Ri. Terbesit di pikiran Hana untuk mengintip agar tahu apa yang mereka lakukan di ruangan itu. Tapi, dia merasa ragu. Hana takut jika nanti dia melihat sesuatu yang paling tidak  ingin dilihatnya. Seperti, Min Ho dan Hye Ri berciuman.
Hana mengambil ipod miliknya, lalu memasangkan earphone di telinga. Di putarnya lagu Please Don’t milik K. Will, lagu yang sesuai dengan perasaannya saat ini. Beberapa detik kemudian Hana mulai hanyut dalam suara K. Will yang lembut. Tatapannya jatuh pada pohon cherry blossom yang mulai bermekaran di sepanjang jalan Jinhae.
Setengah jam kemudian Min Ho dan Hye Ri keluar. Keduanya terlihat begitu bahagia. Hana ingin menangis saat melihat sebuket mawar merah di tangan Hye Ri. Sebelum pergi Hye Ri sempat mencium pipi Min Ho di depan Hana. Hana semakin yakin kalau Min Ho sudah memilih yeoja cantik itu.
“Kau baik-baik saja, Hana-ssi?” tanya Min Ho cemas saat melihat wajah pucat Hana setelah Hye Ri pergi. Hana mengangkat wajah, lalu mencoba untuk tersenyum. “ Min Ho-ssi, aku permisi ke belakang dulu.”
Di ruang ganti, Hana tak mampu membendung tangisnya. Air matanya jatuh satu-satu, membasahi pipi. Tubuh Hana bergetar hebat. Setelah lelah untuk menangis, Hana kembali ke depan untuk bekerja. Untung Min Ho sudah kembali ke ruangannya, sehingga Hana tidak perlu menyembunyikan matanya yang sembab. Tiba-tiba Hana melihat setangkai bunga dan sepucuk surat yang diletakkan di mejanya. Hana membaca surat yang ternyata ditujukan untuknya itu.
Semoga setangkai bunga indah ini bisa mengembalikan senyummu, Hana-ssi. Aku tidak suka melihatmu menangis.
Kang Min Ho
 Hana tertegun saat mengetahui siapa pengirim surat itu. Dan, saat dilihatnya setangkai bunga itu adalah ranunculus.
Apa maksudnya, sih, dia selalu memberiku bunga ranunculus?Padahal sudah jelas dia telah berpacaran dengan Hye Ri.    
***
Keesokan harinya Hana tidak bersemangat untuk bekerja. Matanya sembab karena menangis semalaman.
“Hana-ssi, kau baik-baik saja? Mengapa matamu begitu?” tanya Min Ho cemas saat melihat Hana.
“Oh, ini karena aku bergadang semalaman mengerjakan tugas sekolah,” bohong Hana.
Min Ho mengamati Hana. Dia tahu bahwa yeoja itu berbohong. “Besok ada festival musim semi di Yeojwachan. Bagaimana kalau kau ikut aku dan Hye Ri ke sana, Hana-ssi? Sepertinya kau butuh hiburan,” ajak Min Ho.
“Aku tidak bisa,” tolak Hana sambil menusun bunga-bunga krisan.
“Kau harus ikut, Hana-ssi. Ayolah. Kapan lagi kita bisa pergi bersama-sama untuk melihat keindahan cherry blossom di Yeojwachan?” bujuk Min Ho dengan wajah memelas.
Melihat wajah Min Ho, Hana jadi tidak tega untuk menolak ajakan namja tampan itu. Saat Hana menyetujui bahwa dia aka ikut. Tiba-tiba Min Ho memeluknya. Hana merasakan sensasi aneh yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Tapi anehnya, rasa ini justru menimbulkan efek nyaman yang luar biasa. “Kita pasti akan bersenang-senang di sana,” bisik Min Ho tanpa melepaskan pelukannya.
***
Yeojwancheon merupakan jembatan yang sering digunakan sebagai lokasi syuting serial romance, sehingga jembatan ini disebut romance bridge. Saat musim gugur, jembatan ini ramai dikunjungi karena di sini cherry blossom berguguran sangat indah. Tapi, Hana menyesali keputusannya untuk ikut ke sini bersama Min Ho dan Hye Ri.
“Dari tadi aku melihatmu cemberut terus, Hana-ssi? Apa ada masalah?” tanya Hye Ri.
Hana menggeleng. “Aku cuma lapar,” kilah Hana. Hye Ri tersenyum mendengarnya, lalu mengeluarkan sesuatu.
“Kebetulan tadi aku membeli oden8,  teoboki7, dan minuman kaleng. Kalau kau lapar, makan saja ini.”
Hana menerima kantong makanan pemberian Hye Ri. Dan, langsung memakannya. Setidaknya dia tidak perlu lagi menjadi patung yang menyaksikan kemesraan Min Ho dan Hye Ri.
Sambil menikmati oden, Hana menyapukan pandangannya pada kelopak-kelopak cherry blossom yang meliuk-liuk di udara. Sungguh cantik dan memesona. Andai saja Hye Ri tidak ada, pasti Hana akan menikmati semua keindahan ini bersama Min Ho. Tapi, kenyataannya Hye Ri ada di sini. Dan, sedang bermesraan dengan Min Ho.
Saat Hana mau menyuap oden ke mulutnya, tiba-tiba Min Ho menarik tangannya yang memegang oden, dan memakan oden milik Hana. Wajah Hana langsung bersemu merah karena ulah Min Ho tersebut.
Hana menatap Min Ho. Sementara namja itu kembali asyik dengan Hye Ri. Hana benar-benar bingung dengan sikap Min Ho.
Minhae, aku terlambat.” Tiba-tiba seorang namja hadir di antara mereka. Hye Ri langsung menghambur ke pelukan namja itu.
“Junsu-ssi, akhirnya kau datang juga,” ucap Min Ho.
Hye Ri menoleh pada Hana “Oh iya, Hana-ssi, ini Lee Junsu, kekasihku. Dan, oppa8, ini Kim Hana, temannya Min Ho.”
Hana benar-benar bingung dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kepalanya terasa pusing. Jika, namja ini kekasihnya Hye Ri, lalu bagaimana dengan Min Ho? Min Ho mengedipkan mata pada Hye Ri.
“Jadi, kau mengira aku dan Hye Ri berpacaran dan berkencan di sini?” tanya Min Ho setelah kepergian Hye Rid an Junsu.
Hana mengangguk, dan Min Ho semakin tertawa mendengarnya. “Bodoh, mana mungkin aku berkencan dengan sepupuku sendiri.”
Hana menunduk. Dia tidak tahu kalau Hye Ri adalah sepupu Min Ho. Dan, Hana merasa malu telah menangis semalaman karena mengira Min Ho dan Hye Ri berpacaran.
“Kalaupun Hye Ri bukan sepupuku, aku juga tidak akan berkencan dengannya, Hana-ssi. Karena aku sudah menyukai seseorang sejak pertama kali melihatnya.” Min Ho menatap Hana teduh. Membuat dada Hana berdebar-debar.
“Siapa?” tanya Hana.
“Bodoh! Apa kau tidak tahu arti bunga ranunculus?” Min Ho menyeringai saat melihat wajah bingung Hana.
Ranunculus dalam bahasa bunga dapat diartikan sebagai ungkapan ‘kau sangat menarik bagiku’. Saat menyadari alasan mengapa Min Ho selalu memberinya bunga ranunculus, Hana seperti sedang ikut pacuan kuda. Jantungnya serasa mau meledak karena bahagia.
Min Ho berlutut di depan Hana, lalu meraih tangannya. “Saat pertama melihatmu, kau adalah yeoja yang menarik bagiku. Dan, saat melihatmu melamar pekerjaan di tokoku, aku merasa itu kesempatan bagiku untuk mengenalmu semakin jauh. Dan, sekarang aku ingin kau menerima bunga pemberianku ini.” Min Ho menyerahkan sebuket bunga anemone merah. Bunga cantik yang dalam bahasa bunga diartikan sebagai ‘aku cinta kamu’.
Hana tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya. Hana menerima anemone merah itu dengan wajah basah karena air mata bahagia. Dan dengan gerakan yang terbilang cepat, Hana ikut berlutut lalu mendaratkan bibirnya di pipi Min Ho. Ciuman yang singkat memang, tapi sudah cukup membuat mata Min Ho terbelalak.
Nado sarange9, Min Ho-ssi.” Min Ho segera memeluk tubuh yeoja yang kini telah menjadi kekasihnya itu dan tidak ingin melepaskannya. Kelopak cherry blossom berguguran menjadi saksi menyatunya cinta dua hati di romance bridge pada musim gugur di Jinhae.
***
Footnote:
1.      Minhae: maaf
2.      Namja: laki-laki
3.      Yeoja: gadis
4.      Jinhae Guhangje Festival: festival cherry blossom pada musim semi Jinhae
5.       Ghamsahamnida: Terima kasih
6.       Oden: Kue ikan yang pakai tusukan
7.      Teoboki: Kue beras pedas.
8.      Oppa: sebutan gadis untuk laki-laki yang lebih tua
9.      Nado Sarange: aku juga mencintaimu

Monday, 21 January 2013

Surat: Teruntuk (Yang Kuanggap Sahabat)

      Hai, Sahabat ...

     Bagaimana kabarmu di sana? Apakah baik-baik saja? Aneh, ya, padahal setiap hari kita selalu bertemu. Tapi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana sesungguhnya keadaanmu. Jika dari luar aku melihatmu baik-baik saja. Tapi, belum tentu dengan bagian dalammu kan?

     Sahabat, andai aku bisa, ingin rasanya aku bisa membaca pikiranmu dan menyelam di dasar hatimu. Aku ingin tahu akan apa yang kau pikirkan tentangku dan rasakan padaku. Agar aku paham di mana letak kesalahanku.

      Baru satu minggu kita tidak berbicara seperti selayaknya, dan kurasakan ada yang kosong di sini, hatiku. Kau ingin tahu rasanya? Menyakitkan! Hingga untuk menutupi rasa sakit itu aku lagi-lagi harus berpura-pura. Pura-pura tertawa dan pura-pura semuanya baik-baik saja.

     Ah ... seandainya bisa, ingin rasanya aku berbicara padamu. Tapi, kau selalu menghindar. Di mana ada aku, kau selalu menjauhinya. Jika terpaksaa bertemu, tak sedikit pun kulihat niatmu untuk menyapaku. Apakah persahabatan kita sudah berakhir?

    Sahabat, teman-teman yang lain sekarang mulai menanyakan tentang kita. Mengapa aku sendiri? Mengapa aku tidak bersamamu? Kemana kamu? Ah ... apa yang mesti kujawab atas pertanyaan ini? Apa aku harus jujur? Tidak! Aku tidak bisa jujur, atau mungkin tidak mau. Akhirnya aku hanya menjawab dengan senyum gurauan. Lagi-lagi semua hanya berpura-pura.

    Sahabat, sekarang kita terlihat seperti dua orang asing. Dimana untuk memula percakapan pun terasa teramat berat. Saling bertatapan pun rasanya mustahil. Padahal, semua orang tahu bagaimana kedekatan kita. Seperti saudara kembar. Selalu bersama. Saling melengkapi. Dan, sekarang? Sebelah sisiku begitu goyah tanpa dirimu.

     Aduh ... dari tadi aku selalu memanggilmu dengan sebutan sahabat. Padahal belum tentu kamu mau menyebutku begitu. Sekarang aku ingin bertanya, apakah aku ini sahabatmu? Atau hanya aku sendiri yang dengan tidak malunya mengaku-ngaku sebagai sahabatmu? Tolong jawab yah! Biar aku tidak salah persepsi dengan kedekatan kita dulu. Namun, kamu harus tahu, meski bagaimanapun jawabanmu, kamu tetaplah sahabatku. Terbaik.

    Terakhir, aku hanya ingin katakan: aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Kamu, aku, kita. Kembali seperti sedia kala. Berangkulan dan menertawai dunia ini bersama-sama. 

    Teruntuk (yang kuanggap) sahabat, masih adakah kesempatan bagiku untuk menjalani hari-hari bersamamu?


Kamar sempitku, 13 Januari 2013 





Monday, 31 December 2012

Draft Novel: Sesungguhnya Cinta (Aluna dan Khrisna)

     Hatiku nyeri saat melihat Khrisna tidur di sofa. Pria itu masih mengenakan kemeja putih bergaris-garis biru --pakaian yang ia kenakan semalam. Dasinya yang berwarna biru pekat terikat longgar di lehernya. Dada Khrisna naik turun teratur. Sementara kedua tangannya terlipat di perut.

     Aku masuk ke kamar, mengambil selimut. Saat aku hendak menyelimuti Khrisna, tiba-tiba pria itu terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya. Khrisna tersenyum saat melihatku.

     "Kamu sudah bangun, Sayang?" tanyanya lembut, sambil menarikku untuk duduk di sebelahnya. "Bagaimana kondisimu?"

     Aku mengabaikan pertanyaan dan malah menatap wajahnya yang terlihat lelah. Ada garis hitam di kantung matanya. "Kamu bergadang semalam?" Aku malah balik bertanya.

     Khrisna balas menatapku. "Aku mengkhawatirkanmu, Aluna. Baru kemarin aku lihat kamu menangis seperti itu," ucap Khrisna lembut. Jemarinya yang panjang masuk di helai-helai rambutku.

     "Maaf aku membuatmu repot," sesalku. Kuusap wajah Khrisna, ingin menghapus raut lelah di wajah tampan pria itu.

     "Itu sudah kewajibanku untuk menjagamu, Aluna." Hatiku terenyuh ketika mendengarnya.

     "Aku tidak akan membiarkan gadis yang kucintai terluka sendirian," Khrisna mengecup pipiku, mataku terpejam merasakan kelembutan deru napasnya yang menggelitik kulitku.

     "Terima kasih, Khris," bisikku.

     Khrisna tersenyum, disampirkannya rambut yang jatuh menutupi wajahku. "Cinta sejati melakukan apa pun demi seseorang yang dicintainya, Aluna. Semua dilakukan dengan dasar ketulusan, tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih. Jadi, saat aku melakukan apa pun untukmu, kamu tidak perlu berterima kasih. Karena aku mencintaimu. Dan, itulah sesungguhnya cintaku."

     Air mata jatuh dari sudut mata dan mengalir membasahi pipiku. Khrisna yang melihatnya, segera menghapus air mataku dengan jemarinya.

     "Jangan menangis," pintanya.

     Yah, Tuhan, apa yang telah kulakukan terhadap pria yang mencintaiku dengan tulus ini? Mengapa aku bisa begitu tega menkhianatinya? Di saat aku menangis karena luka yang ditoreh pria lain yang kucintai , hanya dia yang hadir dan menguatkanku.
"Maafkan aku," Hanya kata itu yang mampu kuucapkan sebagai penebus atas kesalahan yang kubuat secara sadar.

     "Cinta selalu memaafkan." Khrisna mendekapku erat. Dan, telapak tangannya mengelus punggungku. Menenangkanku agar berhenti menangis.


     Tuhan, mengapa kau tidak membuatku jatuh cinta pada pria ini saja?

Tuesday, 25 December 2012

Short Story: Kelopak Kerinduan



Oleh: Kamal Agusta


Aku menatap takjub kanvas langit. Bintang-bintang seperti bermandian gemawan, berkelip riang dalam lelap kesayupan. Seperti ribuan kunang-kunang yang bermain dalam gelapnya lembah berbunga.
Di atas rumah panggung yang berdinding kayu mahoni, aku duduk di atas kaki tangga. Menanti seorang lelaki tua yang kupanggil Abah.
Sesekali kupalingkan wajah ke jalan sempit menuju rumah. Masih sunyi diselimuti gelap. Tak ada tanda-tanda orang yang datang. Hanya angin malam serasa sehela-sehelaan menerpa padang ilalang dan tetumbuhan perdu di sisi jalan. Menciptakan desau yang ritmis dalam senyap malam.
"Ke mana Abah? Kenapa ia belum pulang juga?" bisikku mulai diliputi resah. Aku melirik jam usang yang tergantung ringkih di dinding kayu yang mulai lapuk. Jarum jam merangkak pelan ke angka sembilan. Sudah hampir larut malam. Tapi lelaki tua yang kutunggu itu tak jua menampakkan diri. Ke mana Abah? Tak biasanya ia seperti ini?
Di tengah gelisah yang mulai membuncah. Sayup-sayup terdengar bunyi getas dedaunan kering terinjak dan derak-derak rantai  berkarat yang dipaksa berputar. Di titik yang tercapai cahaya temaram lampu togok dari rumah, kulihat sosok yang kunanti. Abah dengan sepeda tuanya yang sesak oleh barang-barang usang.
Seraut cemas yang sejak tadi bergelayutan di rupaku raib seketika. Bergegas aku menuruni anak tangga. Membantu mengangkut barang temuan Abah ke kolong rumah.
"Kenapa lama pulangnya, Bah?" tanyaku seraya menumpukan kardus-kurdus usang terakhir di atas timbunan benda serupa.
Abah mengelap keringat di wajah keriputnya. Perlahan kaki-kaki tuanya menapak pada anak tangga.
"Tadi Abah singgah ke rumah Mak Cik Anis meminjam duit untukmu ke Batam," jawab Abah, merebahkan tubuh rentanya pada lantai papan.
Aku menghela napas. Kutatap Abah. Ada keletihan terurai jelas di wajahnya.
Abah adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Sejak aku mengenal dunia, hanya ada Abah di sisiku. Menghidupkanku dari barang-barang usang yang ia bawa pulang setiap senja. Abah selalu menjagaku dengan limpahan kasih sayang. Sementara Emak, aku tidak pernah tahu siapa Emak. Lantas tegakah aku meninggalkan Abah di masa senjanya? Aku gamang.
"Aku tidak jadi ke Batam. Aku tidak tega meninggalkan Abah di sini."
"Tidak perlu kamu pikirkan Abah. Kamu sudah dewasa. Sudah seharusnya kamu memulai hidup."
"Tapi, Bah...." Aku masih berusaha menolak.
"Abah ingin lihat kamu maju, Rosna. Pergilah Batam. Ubah hidup kamu di sana," terang Abah.
Aku terdiam. Abah benar. Di Cerenti ini lapangan pekerjaan susah. Apalagi untuk seorang gadis seusiaku. Teringat akan sahabatku; Tuti, yang kini jaya bekerja di Batam. Dari ia lah aku tahu tentang lapangan pekerjaan untuk seusiaku hingga akhirnya aku mengatakan hajat ini pada Abah. Tapi melihat Abah yang semakin tua membuatku goyah.
"Pergilah ...."
"Baiklah, Bah," putusku akhirnya.
Abah tersenyum menguatkanku. Meski kutahu ada keterpaksaan di bening mata rabunnya.
***
Aku tersentak dari lamunan. Keping-keping kenangan di malam terakhir bersama Abah kembali berputar di dalam rongga otakku. Kerinduan yang membuncah pada Abah kembali menyesak.
Sedang apa Abah sekarang? Bagaimana keadaannya? Sehatkah? Beribu pertanyaan menggerogoti lubang hatiku. Pertanyaan yang sampai saat ini tak mampu terucap dari bibirku.
"Ya Allah, kerinduan Hamba pada Abah sudah tak tertahankan. Tunjukkan jalanmu menggiring pulang rasa rindu ini," pintaku pada bait doa hampir di setiap sujud malamku.
Namun, meski empat tahun telah berselang. Kesempatan yang setiap waktu kuharapkan itu belum jua menjelang.
Kelopak-kelopak kerinduan makin melebar. Tumbuh subur disiram air suci dari muara mataku yang retak. Ah... Kapankah rindu ini mendapatkan persinggahannya. Aku terpaksa menelan pahit duri-duri penantian.
Bergegas aku merangkak ke atas dipan. Melepaskan penat yang mendera badan karena bekerja seharian. Mataku mulai terpejam. Dalam gelap, aku melihat siluet wajah Abah. Ia tersenyum hangat kepadaku. Mengalirkan kekuatan untuk bertahan menopang hati.
"Abah..., tunggu anakmu ini pulang, Bah."
***
Di hadapanku berdiri rumah panggung yang tak asing bagiku. Rumah panggung yang terdapat anak tangga di mukanya. Rumah panggung yang terbuat dari kayu mahoni.
Di depan rumah, terdapat jalan kecil. Jalan setapak yang dipenuhi kerikil-kerikil kecil. Di kedua sisinya dipenuhi padang ilalang dan tetumbuhan perdu.
Aku tahu. Ini rumah panggung tempatku dibesarkan Abah. Lalu di mana Abah?
"Abah...!" teriakku nyaring.
Pintu terbuka. Di sana Abah berdiri dalam baju batik yang kukirim di tahun awal aku merantau. Abah tersenyum seraya melambai ke arahku.
Kucoba melangkahkan kaki ke sosok yang menantiku di atas rumah panggung. Aneh! Kakiku tak mau bergerak. Ada puluhan akar-akar tetumbuhan perdu yang tiba-tiba melilit.
Aku memberontak berusaha melepaskan diri dari lilitan. Namun, akar-akar tetumbuhan perdu itu menjeratku semakin kuat. Aku terperangkap.
Tiba-tiba api berkobar. Melalap rumah panggung dengan ganas. Terdengar bunyi letupan kayu terpanggang disertai percikan bunga api. Aku mengerang menyaksikan Abah dijilati lidah api. Kulit keriputnya melepuh dengan darah yang mendidih membasahi. Aku mengerang. Memanggil-manggil nama Abah. Namun, suaraku tak mampu memadamkan si Merah yang semakin meraja. Aku terkulai dalam jerat akar tetumbuhan perdu.
***
Aku terjaga dari tidur dengan tubuh bermandikan keringat. Napasku tersengal-sengal karena sesak. Kulirik jendela. Secercah cahaya masuk dari lubang ventilasi. Dari luar terdengar cericit burung bernyanyi. Pagi ternyata telah menggawang.
Mimpi buruk tentang Abah itu kembali berputar dalam ingatanku. Tubuh Abah yang melepuh terpanggang, percikan bunga api, aku yang menangis histeris dalam jerat akar tetumbuhan perdu. Semua terasa nyata. Kuusap wajahku yang penuh bulir keringat. Meredakan gemuruh perasaan yang meledak.
"Tuhan, apa arti mimpi ini? Tolong lindungi Abah hamba."
***
Mimpi-mimpi buruk tentang Abah selalu mengisi tidurku. Hal inilah yang membawaku  berada di ruang tunggu di bandara Hang Nadim di kota Batam. Menunggu  panggilan petugas untuk menaiki pesawat yang akan membawaku ke tanah kelahiran. Bertahun-tahun jatuh-bangun dalam usaha meredam kerinduan yang menguras emosi, menunggu, penuh harap, serta memohon dalam ribuan bait doa sampai akhirnya pasrah dalam keikhlasan, akhirnya saat yang dinantikan itu tiba juga.
Senyum bahagia tercetak di bibir. Namun, seulas  cemas juga membayang di sana. Akankah pertemuan yang dinanti selama empat tahun ini akan memekarkan indah kelopak-kelopak kerinduan  itu?
Di hadapanku berdiri seorang pria menggendong seorang balita perempuan yang cantik. Seketika aku ditarik dan dihempas pada kenangan usang masa kecilku. Saat aku berusia enam tahun, Abah masih sering menggendongku. Meninabobokanku dalam rengkuhan hangatnya. Sebelum tidur Abah selalu menceritakan tentang kisah-kisah putri kerajaan. Ia baru akan berhenti kala aku terlelap dalam buaian malam.
Suara petugas terdengar dari pengeras suara. Ia  menginfokan bahwa pesawat dengan tujuan Pekanbaru akan take-off. Para penumpang diharapkan segera memasuki pesawat.
Aku segera bangun dari duduk lalu mengamit koper serta bawaanku yang lain. Dengan mantap aku menapakkan kaki  menuju pesawat yang akan membawaku pada Abah.
"Abah ... sebentar lagi kerinduan ini akan mengakhiri penantiannya."
***
Pesawat landing di Bandara Sulthan Syarif Qasim, Pekanbaru, sesuai jadwal. Setelah melalui pemeriksaan, aku bergegas mengambil koper dan bawaanku. Barang-barang telah ada di tanganku. Dengan cepat aku bergegas mencari taksi.
Bandara SSQ terlihat sesak dipenuhi orang yang berdatangan atau berpergian. Di antara pengunjung aku menemukan raut kebahagian. Namun, ada juga pengunjung yang menangis sambil berpelukan. Aku merasa wajar karena bandara adalah tempat orang bertemu dan berpisah.
Akhirnya aku mendapatkan taksi yang akan membawaku ke terminal tempat travel yang menuju rumah Abah. Lima jam lagi, kelopak-kelopak kerinduan itu akan bermekaran bahagia.
"Abah ... tinggal sebentar lagi."
***
Mobil travel membawaku meninggalkan kota Pekanbaru menuju desa kecil di Kabupaten Kuantan Singingi, Cerenti. Mobil melesat bergerak mendaki tanjakan. Melintasi perkebunan sawit yang senyap. Meninggalkan deretan perpohonan getah  yang cepat bergerak ke belakang. Di bangku tepat belakang sopir, aku tersenyum memandangi pemandangan yang sudah lama tak kulihat.
Sebuah rasa getar yang indah berderap kuat di hatiku. Perasaan rindu pada Abah yang membuncah. Semakin dekat jarak dan waktu untuk bertemu Abah, kelopak-kelopak kerinduan itu semakin bermekaran indah.  Bersemerbak tak terkendali. Semakin sedikit, Abah. Kelopak-kelopak kerinduan ini akan terkembang megah.
***
Senja menyapa Cerenti. Tampak layung seolah terbakar di langit barat. Jejak 'Mata Dewa' yang tertinggal.
Kini langkah kakiku telah memasuki jalan setapak yang kedua sisinya masih ditumbuhi illalang dan tetumbuhan perdu. Rumah panggung yang dihuni seseorang yang kurindukan telah ada di depan mataku.
"Abah ...!" panggilku sembari meniti anak tangga.
Senyap. Tak ada sahutan. Aku terus memanggil-manggil Abah. Namun tetap sama, rumah ini kosong.
"Sudah pulang kamu, Rosna?"
Aku menoleh, di bawah kulihat Pak Burhan; Tetanggaku.
"Sudah, Pak. Baru saja sampai."
"Kamu mencari, Abah?"
"Bapak tahu di mana Abah?" tanyaku senang.
Pak Burhan mengangguk. Namun, ada raut sedih di wajahnya.
"Kamu ikut aku," pinta Pak Burhan.
Aku mengikuti langkah Pak Burhan. Di dalam hati aku terus bertanya ke mana dia akan membawaku. Tapi, bukankah ini jalan menuju pemakaman? Ya Allah apa maksudnya ini?
"Abahmu di sini, Rosna." Pak Burhan menunjuk areal pemakaman.
"Maksud Bapak?" tanyaku tak mengerti.
"Abahmu ada di dalam."
Seketika pikiran buruk memenuhi diriku. Tak mungkin Abah meninggal.
"Kuatkan hatimu, Rosa."
Pak Burhan kembali membimbingku memasuki pemakaman. Air mata telah pecah dari bola mataku. Membentuk aliran sungai kecil.
Di atas kuburan yang terlihat masih baru aku melihat. Aku tertegun. Hanya tangisan yang pecah dari bibirku.
"Itu Abahmu." tunjuk Pak Burhan.
"Abah ...!" isakku.
Aku mendekat, lalu memeluk sosok yang duduk merenung di atas kuburan. Abah terlihat lusuh dan kurus, tak terawat. Apa yang terjadi denganmu, Bah?Abah menoleh kepadaku.
"Siapa kamu!" bentaknya garang.
"Aku Rosna, Bah. Anakmu."
"Anak? Anak? Hahaha ...."
Kelopak-kelopak rindu yang telah lama terpupuk dan siap untuk bermekaran, seketika melayu. Kelopak-kelopak rindu itu kering. Satu-persatu mulai berguguran dan jatuh pada lubang hatiku yang menghitam. Penantian akan mekarnya kelopak-kelopak rindu hanya sebatas harapan.
Aku mencoba mengemasi kembali kelopak-kelopak rindu yang berserakan. Namun, kelopak-kelopak rindu itu tak kan mampu disatukan dan mekar lagi. Napas kehidupan kelopak-kelopak rindu itu telah terenggut oleh ketidakberdayaan.
Aku tak mampu lagi menjawab. Hanya pelukanku yang semakin erat  pada tubuh Abah. Beliau tak lagi mengenaliku. Abah telah gila. Entah apa penyebabnya. Aku tak tahu.[]




NB: Cerpen ini terdapat dalam antologi When ... I Miss You

Rp. 30.000