Tuesday, 8 April 2014

Story About Revisi: Bab-Bab Yang Terbuang



Alhamdulillah … awal bulan maret lalu naskah saya di-acc salah satu penerbit yang sudah menjadi inceran saya. Tentu saja saya sangat senang. Namun, Mbak editor yang menghubungi saya itu meminta saya untuk melakukan beberapa revisi. Terutama mengganti ending ceritanya.
Sejenak saya ragu. Merevisi naskah bukanlah hal yang mudah. Bahkan bagi sebagian penulis beranggapan revisi itu lebih sulit daripada menulis naskah yang baru. Dan, saya juga beranggapan seperti itu.
Namun, untung ada teman yang menyemangatiku. Beliau berkata, “Kalau editor minta kamu untuk revisi, kerjakan. Itu juga untuk kebaikan naskahmu agar jadi lebih baik!”. Ucapan beliau berhasil membuat keraguan saya menghilang.
Lalu mulailah saya melakukan revisi. Beberapa kali saya harus kembali melakukan riset untuk memperkaya isi naskah saya ini. Di awal-awal saya menikmati revisi tersebut. Beberapa catatan yang diberikan editor berhasil saya perbaiki. Namun, saat tiba di bagian ending—dimana inilah bagian terberat dari tugas revisi naskah saya ini karena saya harus mengubahnya total—saya mengalami stuck ide. Setelah beberapa hari tidak dapat ide juga untuk mengubah ending-nya menjadi seperti apa, akhirnya saya memutuskan untuk sharing lagi dengan Mbak editor. Beruntung Mbak editor mendengarkan keluhanku dengan baik. Beliau juga memberikan beberapa solusi, salah satunya mengirimkan link sbuah website yang bisa saya kepoin. Semoga setelah saya kepoin akan ada ide untuk ending naskah ini. Dan, ternyata berhasil.
Dua hari sebelum akhir bulan, saya mulai kembali merevisi. 3 bab akhir naskah awal saya buang (sebenarnya saya sayang membuang 3 bab ini karena menulisnya dulu butuh waktu berhari-hari, tapi demi kebaikan naskah yang saya harus merelakannya), lalu saya mulai menggantinya dengan ide baru yang saya harap sesuai dengan yang dipinta Mbak editor. Dan, sebelum pergantian bulan pe-er revisi saya pun selesai. Alhamdulillah. Lega rasanya.
Itulah sekilas cerita tentang kegiatan revisi yang saya lakukan. Oh iya, saya juga memposting 3 bab yang terbuang tersebut. Bagi yang penasaran dan kepengin baca, silahkan dinikmati. Semoga 3 bab yang terbuang itu bisa sedikit menghiburmu.
Cekidoooot!



14
Berjuang

“…Tuhan sudah memberikanku kesempatan ini. Dan, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

            Dua minggu sudah berlalu sejak hari Kathalina mendaftarkan diri untuk mengikuti kontes Perang Designer. Selama itu pula intensitas pertemuan Kathalina dan Daniele meningkat. Setiap hari mereka selalu janjian untuk bertemu. Baik di pagi hari—kalau mereka sama-sama tidak mempunyai jadwal kuliah—maupun di sore hari—saat mereka pulang kuliah. Tempat bertemunya pun bermacam-macam, di kafe, di taman, di depan kampus Kathalina, ataupun di tempat lainnya. Dan, pertemuan itu tentu saja untuk membahas kontes Perang Designer.
            Ternyata dalam kontes itu para peserta diminta untuk membuat sebuah gaun pengantin yang memesona, cantik dan tentu saja elegan. Kathalina yang sudah beberapa kali membuat gaun pengantin saat menjadi asisten Cassandra tentu saja bersemangat. Ditambah lagi Cassandra juga pernah mengajarinya untuk membuat desain gaun pengantin yang memesona. Kathalina merasa ia punya peluang untuk memenangkan kontes Perang Designer itu.
            Dan, Daniele seperti janjinya akan turut membantu Kathalina. Ia sering menemani Kathalina mendesain, dan meminjamkan beberapa buku milik Cassandra sebagai referensi. Ia melakukan apa saja yang ia bisa untuk membantu gadis itu.
            Waktu berlalu begitu cepat seperti busur panah. Desain gaun pengantin Kathalinapun sudah jadi. Sekarang ia tinggal membuatnya. Tapi, seketika Kathalina tersadar. Untuk membuat gaun itu ia membutuhkan uang untuk membeli kain dan hal lainnya. Namun, uangnya tidak cukup untuk membeli semua bahan itu. Semangat Kathalina yang sempat membara, kini perlahan-lahan meredup.
            “Kau bisa menggunakan uangku,” kata Daniele saat tahu masalah yang membuat semangat Kathalina meredup.
            Kathalina menatap Daniele tidak percaya.
            “Cassandra juga bilang padaku kalau kau butuh tempat untuk membuat gaunmu, kau bisa menggunakan kantornya.”
            “Tapi, Cassandra, di—”
            “Cassandra sudah melupakan semuanya. Dia juga minta maaf karena terpaksa memecatmu. Dulu Cassandra memang kecewa padamu, tapi sekarang sudah tidak.”
            Air mata jatuh di sudut mata Kathalina. Ia langsung menghambur ke pelukan Daniele. Lalu, “Kau benar-benar malaikatku, Daniele.”
            Daniele sempat kaget dipeluk Kathalina tiba-tiba. Tapi, sesaat kemudian ia membalas pelukan Kathalina.
            Karena mendapatkan bantuan dari Daniele dan Cassandra, Kathalina semangat kembali membuat gaun pengantinya. Cassandra beberapa kali memberi Kathalina saran pada  gaun pengantinnya agar makin tampak memesona dan elegan. Kathalina hanya membutuhkan waktu seminggu untuk menyelesaikan gaunnya.
            Saat melihat gaun pengatin rancangannya Kathalina tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Ini adalah hasil rancangannya yang pertama.  Dan, hasilnya pun luar biasa.
            Kathalina yakin ia bisa memenangkan kontes itu.
***
            “Kau siap, Kat?” tanya Daniele saat menelepon Kathalina. Bibirnya tersenyum lebar saat gadis itu menjawabnya penuh semangat.
            Hari ini adalah hari dimana kontes Perang Designer itu akan diadakan. Daniele sudah berjanji akan menjemput gadis itu dan menemaninya menuju lokasi tempat kontes itu berlangsung. Ia ingin memberi gadis itu semangat.
Namun sebenarnya ada hal lebih penting yang membuat Daniele ingin menemani gadis itu. Ini mengenai perasaannya. Ia tidak sanggup lagi menahannya terlalu lama. Daniele ingin memberi tahu gadis itu bahwa ia mencintainya. Sangat mencintainya. Dan, ia ingin mengungkapkannya setelah kontes itu selesai.
Karena terlalu asyik berbicara dengan Kathalina melalui telepon, Daniele tidak melihat kiri-kanan wanku menyeberang. Dan, insiden itu terjadi begitu cepat. Tubuh Daniele tertabrak oleh mini bus. Telepon di genggamnya terlepas, jatuh dan hancur terlindas ban mobil. Sementara tubuh Daniele tergeletak di tengah jalan. Tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.
Di ujung telepon Kathalina membeku mendengar decitan ban yang memekakkan telinga sebelum sambungan telepon terputus. Ia tahu ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada lelaki itu.
***
Di rumah sakit ternyata sudah ada Cassandra. Kathalina langsung memeluk wanita itu. Wajah Cassandra basah oleh air mata, sama seperti wajah Kathalina.
Dokter-dokter dan perawat berbaju putih lalu lalang di depan mereka. Tampak sibuk menangani pasien. Aroma rumah sakit yang menyengat dengan bau obat-obatan membuat suasana terasa tidak menyenangkan.
Daniele masih ditangani oleh dokter. Daniele mengalami pendarahan di kepalanya yang cukup parah. Selama menunggu dokter keluar dari ruang UGD, Cassandra menceritakan semuanya pada Kathalina. Tentang hubungannya dengan Daniele dan juga tentang perasaan lelaki itu pada Kathalina. Semuanya diceritakan Cassandra dengan suara terisak-isak.
“Jadi, Daniele itu anakmu?”
Cassandra mengangguk. “Dia yang dulu memintaku untuk menjadikanmu asistenku. Semuanya Daniele lakukan karena dia mencintaimu, Kathalina. Dia sangat mencintaimu. Semalam dia mengatakan padaku akan mengungkapkan perasaannya setelah kontes itu berakhir. Tapi …” Cassandra tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia memeluk tubuh Kathalina yang seakan mati rasa mendengar semua pengakuan itu.
Tiba-tiba Cassandra teringat sesuatu.
“Kat, kontes Perang Designer sebentar lagi di mulai. Mengapa kau masih di sini?”
Kathalina menatap Cassandra, “Aku tidak mungkin mengikuti kontes itu dalam kondisi seperti ini.”
Cassandra mengusap air matanya lalu menggenggam tangan Kathalina. “Kau harus mengikutinya. Daniele sangat ingin kau memenangkan kontes itu. Jangan buat Daniele kecewa kalau kau sampai tidak ikutan. Dia pasti akan menyalahkan dirinya.”
“Tapi, Cassandra…”
Cassandra semakin erat menggenggam tangan Kathalina, “Kau harus memenangkan kontes itu. Biar aku menunggu di sini. Aku akan meneleponmu kalau terjadi sesuatu yang buruk.”
Kathalina menunduk.
“Pergilah, Kat. Jangan buat Daniele kecewa.”
Kathalina mengangguk. Ia harus memenangkan kontes itu untuk Daniele. Untuk lelaki yang selama ini menjadi malaikatnya. Untuk lelaki yang ia cintai.


15
Akhir Perjuangan
  
“…sebagai malaikatmu tugasku sudah berakhir. Kau sudah meraih impianmu.”

Kathalina sampai di lokasi kontes Perang Designer tepat waktu. Ia segera berkumpul dengan ratusan peserta lainnya. Dan, Kathalina tidak kaget saat menemukan Andreana di antara peserta itu. Andreana menatapnya sekejap lalu membuang muka.
Kontes dibuka oleh kata sambutan dari panitia penyelenggaran. Setelah itu para peserta diminta untuk menuju manekin yang telah diberi nomor sesuai nomor peserta dan mempertunjukkan gaun pengantin hasil rancangan mereka.
Kathalina langsung memasangkan gaun pengantin hasil rancangannya di manekin yang sesuai dengan nomornya. Gaun pengantin berwarna merah muda dan putih itu terpasang dengan anggun di manekin tersebut. Bagian dadanya yang diberi hiasan pita dan bagian bawah yang berbelah berbentuk seperti sayap membuat gaun itu kian menarik. Gaun pengantin itu semakin dipercantik dengan seuntai kalung berliontin merah delima.
Andreana yang bisa melihat gaun rancangan Kathalina tidak bisa menyembunyikan rasa irinya. Gaun Kathalina sungguh lebih baik daripada gaun pengantinnya yang berwarna brokenwhite dengan hiasan bunga-bungan di bagian dada. Lagi-lagi gadis itu mengunggulinya.
Para juri yang terdiri dari 5 orang Designer terkenal mulai melakukan penilaian. Saat menilai mereka juga meminta para peserta menjelaskan tentang gaun pengantin yang mereka buat. Penjurian memakan waktu yang cukup lama.
Setelah penjurian selesai panitia kembali meminta para peserta kembali ke ruang tempat mereka mereka berkumpul tadi. Para peserta diberi kesempatan untuk menikmati jamuan selagi para dewan juri berunding untuk menentukan pemenang kontes Perang Designer ini.
Kathalina memanfaatkan waktu luang itu untuk menelepon Cassandra. Ia ingin mengetahui perkembangan kondisi Daniele. Saat Cassandra mengatakan bahwa Daniele sudah sadarkan diri, Kathalina merasa dadanya yang tadi serasa dihimpit batu besar merasa sangat lega. Ia mengatakan pada Cassandra akan segera ke rumah sakit setelah kontes ini berakhir. Dan, Cassandra mendoakan semoga Kathalina memenangkan kontes itu.
“Baiklah, pemenang kontes Perang Designer yang memperlombakan rancangan gaun pengantin sudah berada di tangan saya,” ucap seorang wanita berkacamata yang merupakan pembawa acara kontes ini.
“Tujuan kontes ini adalah mencari Designer muda dan berbakat yang akan diberi beasiswa di salah satu sekolah fashion terbaik di New York dan berkesempatan magang kerja di perusahaan fashion terkemuka.”
Pembawa acara tersebut menatap seluruh peserta yang terlihat berdoa agar mereka yang menang. Pembawa acara itu tersenyum tipis lalu kembali bersuara.
 “Dan,  pemenang kontes Perang Designer ini adalah ….”
***
“Daniele …,” panggil Kathalina saat masuk ke ruangan tempat Daniele di rawat. Ia langsung mendekati ranjang dimana lelaki itu berbaring lemah.
“Kat.” Suara Daniele terdengar lirih.
“Kathalina.” Kali ini Cassandra yang bersuara. Ia memberi Kathalina tempat duduk.
“Dan, … aku …” Kathalina mengusap air matanya yang jatuh, namun bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia. “Aku memenangkan kontes itu. Aku memenangkannya.”
Daniele ikut tersenyum. “Aku yakin kau akan memenangkannya.”
“Ini semua berkat bantuanmu dan Cassandra.”
Daniele menggeleng. “Semua karena kemampuanmu sendiri, Kathalina.”
Kathalina meraih tangan Daniele lalu mengenggamnya.
“Kathalina, sebagai malaikatmu tugasku sudah berakhir. Kau sudah meraih impianmu.”
Kathalina dan Cassandra terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Daniele. “Apa yang kau katakan, Daniele?”
“Tugasku sudah berakhir. Sekarang saatnya aku kembali pada Tuhan yang telah mengutusku untuk membantumu.”
Kathalina dan Cassandra menangis. “Kau jangan berkata seperti itu. Kau harus sembuh.”
Daniele menggeleng. “Waktuku sudah habis.”
Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba tubuh Daniele mengejang. Alat pemacu jantungnya menampilkan garis horizontal lurus. Kathalina dan Cassandra segera memmeluk tubuh Daniele. Mereka memanggil-manggil lelaki itu untuk bangun.
“Daniele, bangun. Jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu. Membalas semua kebaikanmu. Kau harus bangun, Daniele. Aku mencintaimu,” ucap Kathalina sambil menggoyangkan tubuh Daniele.
Cassandra pun melakukan hal yang sama. Ia meminta putranya itu untuk membuka mata. Namun, Daniele tetap terpejam. Ia telah pergi dengan bibir menyunggingkan senyuman. Senyum bahagia karena ia berhasil membuat gadis yang ia cintai meraih impiannya. Dan, ia bahagia karena gadis itu juga mencintainya.


16
Masih Mencintaimu

“…aku masih mencintaimu dan sekarang aku kembali untukmu.”


            Sedan mewah berwarna silver itu berhenti di depan sebuah pemakaman. Pintu belakangnya terbuka, lalu seorang wanita muda yang mengenakkan gaun panjang berwarna hitam turun dari mobil tersebut.
            Wanita itu mendongak menatap langit kota Milan. Hari ini langit tampak kelabu karena mulai memasuki musim gugur. Sudah tujuh tahun ia tidak menatap langit kota Milan, dan sekarang ia kembali. Perasaannya masih sama. Ia masih menyukai kota ini. Menyukai semua hal yang kota ini punya.
              Pelan, ia mulai melangkah. Kakinya yang panjang mulai menapaki rerumputan pemakanan. Setiap langkah, kenangan demi kenangan mendesak masuk ke pikirannya. Seperti slide film, kenangan itu silih berganti terus berputar. Mulai dari pertama kali ia menetap di kota ini untuk menggapai impiannya, hari-hari yang ia lewati dengan penuh suka cita di tahun pertama, kemudian kesulitan di tahun kedua yang hampir membuatnya mengubur impiannya. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat saat kenangan tentang lelaki itu berkelebat di kepalanya. Lelaki yang ingin ia temui di pemakaman ini.
            Saat wanita itu sampai di tempat tujuannya, wajah wanita itu sudah basah oleh air mata.
            “Aku kembali,” suara wanita itu serak saat berbicara. “Aku kembali untuk menepati janjiku. Aku kembali untuk memperlihatkan padamu kalau aku sudah berhasil meraih semua mimpiku.”
            Tangis wanita itu pecah. Ia menutupi mulutnya, berusaha meredakan isak tangisnya.
            “Ini semua berkat bantuanmu. Seandainya dulu kau tak pernah menemukanku, mungkin aku tidak akan ada di sini saat ini. Aku tidak akan menjadi seperti ini. Ini semua karenamu.” Wanita itu menggigit bibirnya. “Aku … aku sangat berterima kasih padamu.”
            Wanita itu menyusut air mata yang menderas di pipinya sebelum melanjutkan, “Sekarang aku benar-benar kembali. Aku kembali untukmu. Aku kembali karena aku masih … mencintaimu.”
            Sempurna sudah wanita itu menangis. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Karena apa yang sebenarnya yang ingin ia katakan sudah ia ungkapkan.
            Keheningan itu melanda. Angin  musim semi mulai berhembus. Daun-daun pohon yang tumbuh di sekitar pemakaman berguguran. Daun-daun itu sudah kering dan berwarna kuning kecoklatan.
            Wanita itu menatap lelakinya dengan tatapan yang mengandung berjuta kerinduan. Lelakinya yang kini sudah tertidur dengan damai di tempat peristirahatan terakhirnya. Wanita itu mengusap batu nisan itu penuh cinta.

Telah Tidur Dalam Damai
Daniele Lucca.



Bagaimana pendapatmu dengan 3 bab yang terbuang itu? Apakah bab-bab tersebut memang pantas untuk dibuang? Hehehe ….
            Yasudah, apapun pendapatmu saya hanya mau mengatakan bahwa saya sangat senang karena kamu sudah mau mampir ke blog saya dan telah sudi membaca cerita dari saya ini. Dan, kalau tidak keberatan, tinggalkanlah jejak kamu di sini (silahkan berkomentar), agar saya bisa mengucapkan terima kasih padamu.  ^_^

Pekanbaru, 07 April 2014. 10:51 pm.

@KAgusta

Monday, 7 April 2014

Berbagi Cerita: Menuliskan hal-hal yang kausukai dan Kauimpikan



“…mulailah menulis dari hal-hal yang kausukai dan kauimpikan.”


               Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang bagaimana proses menulis yang saya lakukan selama ini. Saya berharap sepenggal cerita dari saya ini bisa memberikan sedikit inspirasi dan membantu kamu dalam proses menulis.
               Begini ceritanya. Dulu pernah ada yang bertanya pada saya melalui inbox seperti ini:

“Mal, novel itukan tebal. Nulisnya harus ratusan halaman. Emangnya hal apa aja yang kamu ceritakan di novel yang kamu tulis itu, sih?”

               Saya pun menjawabnya begini:

“Aku menceritakan apa yang sering kulakukan, kusukai dan aku impikan.”

               Ya, memang seperti itulah. Selama ini saya selalu menuliskan hal-hal yang saya sukai dan impikan di dalam novel saya. Makanya meskipun ratusan halaman, saya sangat menikmati proses penggarapan novel yang saya tulis tersebut. Karena lewat novel itu saya berbagi hala-hal yang saya sukai dan mewujudkan beberapa impian-impian yang belum bisa saya wujudkan dalam kehidupan saya.
               Di dunia ini banyak hal yang begitu saya sukai. Di antaranya; melihat hujan, memandang langit, menatap bintang, kopi, coklat, ice cream, lagu-lagu romantis, pantai, laut, musim gugur,  novel, suara petikan gitar dan lain sebagainya. Dari semua hlal yang saya sukai itu yang sering saya lakukan adalah menatap langit. Bagi saya langit itu sesuatu sekali. Sumber inspirasi. Tempat saya merenung. Tempat saya berbagi cerita dalam diam. Dan, hal itulah yang saya tuliskan dalam novel-novel saya. Saya menciptakan tokoh-tokoh yang juga  suka memandang langit dalam suasana dan kondisi yang berbeda (agar setiap novel adegannya jadi berbeda-beda).
               Berikut adegan-adegan memandang langit yang saya tulis untuk 6 novel saya:
               Di novel After a Long Time, saya menuliskan Arre dan Aluna suka duduk di lapangan berumput untuk menatap langit malam yang penuh bintang. Saat menemukan bintang jatuh, Aluna akan memejamkan mata melakukan permohonan. Sementara Arre  akan menatap wajah Aluna yang khusyuk melakukan permohonan.
               Lain lagi di novel Memilikimu. Di novel ini saya selalu menuliskan adegan dimana Viola dan Ryoru suka menghabiskan waktu istirahat mereka di atas gedung sekolah. Di sana mereka akan menatap langit yang penuh awan dan menikmati hembusan angin yang menenangkan perasaan.
               Sedangkan di novel Natuna: Missing You, saya menuliskan adegan Alvin yang selalu menatap langit yang berada di atas laut dari jendela kamarnya saat merindukan orang yang ia cintai. Setelah itu ia akan mengambil buku sketch-nya dan mulai menggambar.
               Beda lagi di  novel Cinta Tak Kenal Logika. Saya suka menuliskan adegan Seisa dan Rafky yang selalu berbaring di atas trampolin untuk menatap langit malam. Dalam diam  mereka berbagi earphone untuk mendengarkan lagu-lagu romantis yang akan mengisi kesenyapan.
               Sementara di novel Lovely Ghost, saya menuliskan adegan Kevin yang menatap langit di sebuah padang rumput, jauh dari keramaian. Saat itu Kevin akan merenung dan bercerita tentang perasaan yang selama ini dia simpan rapat-rapat: perasaan sukanya pada sahabatnya.
               Terakhir di novel Dreaming, saya menuliskan adegan Kathalina yang suka menatap langit kota Milan. Terutama langit Milan yang kelabu di musim gugur.

               Selain menuliskan hal yang saya sukai dan sering dilakukan, saya juga menuliskan hal-hal yang saya impikan. Di antaranya, mempunyai trampolin (saya menuliskannya di novel Cinta Tak Kenal Logika), bisa main gitar (saya menuliskannya di novel After a Long Time), jalan-jalan ke kota Milan (saya menuliskannya di novel Dreaming), tinggal di tepi Pantai (saya menuliskannya di novel Natuna: Missing You), dan lain sebagainya. Dengan menuliskannya, saya jadi percaya bahwa suatu saat saya pasti bisa mewujudkan jadi kenyataan semua hal yang saya impikan tersebut.
              
               Jadi, seperti itulah proses menulis saya selama ini. Saya selalu memasukkan hal-hal yang saya sukai, hal-hal sering saya lakukan, dan hal yang saya impikan dalam novel-novel saya  tersebut. Tentu saja hal-hal itu saya sesuaikan dengan ide dasar, situasi dan kondisi dari ceritanya. Misalnya, di bagian itu si tokoh sedang sedih, nah cobalah tulis di bagian itu si tokoh melakukan hal-hal yang sering kamu lakukan di saat kamu sedih. Dengan begitu, menulis ratusan halaman rasanya tidak lagi menjadi hal yang sulit, tetapi menjadi sesuatu yang menyenangkan.
               Sekarang tunggu apa lagi, segeralah susun daftar hal-hal yang kamu suka, hal-hal yang sering kamu lakukan, dan hal-hal yang kamu impikan. Lalu pilihlah hal-hal mana yang cocok untuk dikombinasikan dengan ide dasar di novel yang sedang kamu garap itu. Setelah itu  tulislah segera, dan rasakan sensasi nikmatnya. Saya yakin, kamu tidak akan lagi kehabisan ide saat di tengah cerita ketika menulis karena kamu sekarang sudah mempunyai daftar hal-hal yang bisa menjadi sumber ide kalian. Selain itu, kamu juga akan semakin bersemangat dan bersenang-senang saat menulisnya, karena hal yang kamu tulis itu adalah hal yang kamu sukai dan impikan.
               Sekian cerita tentang sedikit proses menulis yang saya lakukan. Semoga sedikit cerita itu bisa bermanfaat dan membantu kamu yang mengalami kesulitan dalam proses menulis. Dan, sampai jumpa lagi pada berbagi cerita saya tentang proses menulis pada postingan selanjutnya.
               Terakhir, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Teruslah menulis karena dengan menulis kamu akan selalu ada!  ^_^


Pekanbaru, 06 April 2014, 23:17 WIB

Kamal Agusta  (@KAgusta)

Wednesday, 2 April 2014

Tentang Novel Saya: Cinta Tak Kenal Logika



Cinta Tak Kenal logika adalah novel ketiga yang saya tulis. Dan, novel solo pertama yang di-acc *seharusnya kedua andai yang di penerbit X itu tidak kutarik*. Novel ini masih tetap berkisah tentang kehidupan remaja. Sesuai kesukaanku. Semula novel ini berjudul Cinta Kalahkan Logika. Namun, pihak agency yang menemukan jodoh naskah ini meminta saya untuk mengubah judulnya menjadi Cinta Tak Kenal Logika. Alasannya biar sesuai dengan selera penerbit.

Novel ini saya tulis hanya dalam waktu kurang dari 10 hari. Ketika itu saya sedang liburan. Bingung mau ngapain. Jadi, saya lihat kotak harta karun saya, mana tahu ada sesuatu yang bisa membuat saya sibuk. Dan, voilaaaa ... saya menemukan ide novel ini yang sudah saya simpan beberapa bulan lalu. Karena konsep di novel ini sudah matang jadi saya lancar-lancar saja menuliskannya. *meski saya tahu banyak kekurangannya*. Dan, tepat tanggal 5 Oktober 2013 naskah ini selesai  dan langsung saya kirim ke agency *lupa editing*. Tanggal 12 November 2013 saya mendapat kabar naskah ini di-acc.

Sesuai judulnya, novel ini memang membahas tentang cinta. Ya, cinta yang terkadang membuat kita lupa berlogika. Dan, sebagai mempermanis dan menarik minat orang untuk membaca, saya pun tergiur menambahkan sebaris tagline "...maaf aku juga mencintainya, teman."

Nah, dari tagline sudah kelihatan bahwa cerita ini tentang seseorang yang ternyata juga jatuh hati dengan orang yang disukai temannya. Semula dia berusaha mengabaikan perasaannya karena temannya terlebih dahulu menyukai cowok itu. Namun apa daya, pesona cinta terkadang membuat seseorang lupa untuk menggunakan logikanya.

"...seperti seorang pecandu, dia menjelma menjadi heroin bagiku. Membuatku lupa diri. Kehilangan akal. Dan, yang kuinginkan saat ini hanyalah dia."

Dewa Amore ternyata tengah berpihak padanya. Cowok itu juga punya rasa padanya. Dan, menyatakan cinta padanya di depan umum. Cinta itu mulai menggeliat. Menggoda. Hingga akhirnya cinta pun membuatnya menjadi egois. Tak lagi memikirkan perasaan sahabatnya. Dia pun menerima cinta cowok tersebut. Akibatnya persahabatan hancur hanya karena cinta.


Itu sekilas tentang kisah yang saya tulis di novel ini. Cinta dan persahabatan di dunia remaja memang selalu menarik saya untuk menuliskannya. Hehehe ....

Dalam novel ini saya juga menyisipkan beberapa adegan yang sangat saya suka dan impikan terjadi dalam kehidupan saya. Sayangnya, beberapa di antaranya belum kesampaian. Jadi, saya mewujudkannya lwat novel tersebut. Hal-hal tersebut di antaranya, memandang hujan, menampung air hujan yang jatuh dari cucuran atap dengan telapak tangan, menatap bintang di atas trampolin, berbagi earphone saat mendengarkan lagu, menyendiri di tempat yang sepi, dan makan ice cream coklat bersama seseorang yang spesial. Alhamdulillah ... menulisnya membuat saya yakin suatu saat saya bisa mewujudkannya. :)

Saya juga menuliskan beberapa quote-quote yang saya harapkan dapat mempermanis dan menghanyutkan pembaca saat menikmati suguhan kisah yang saya tulis ini. Beberapa quote favorit saya:

"...aku bahagia hujan kali ini menjebakku bersamamu."

"...seorang pengkhianat pantasnya hanya dengan pengkhianat juga."

"...cinta itu murni masalah hati, yang terkadang tak tersentuh logika."

"...dulu kita adalah teman berbagi tawa, tapi kenapa sekarang harus saling melukai?"


Nah, itu tadi beberapa quote yang akan kamu temui jika nanti membaca novel ini. Semoga kamu menyukainya.

Kapan novel ini terbit? Entahlah. Saya belum dapat kabarnya. Semoga dalam waktu dekat. Sebulan atau dua bulan lagi. Doakan saja semoga bisa segera terbit. Dan, kalian tergoda untuk membelinya. *itu harapan saya* :)

Baiklah, sekian cerita saya tentang novel ini. Semoga bisa sedikit menghibur.  Sampai jumpa lagi pada berbagi kisah untuk novel saya yang selanjutnya.


Review Novel: Mencari Pemilik Simfoni Kenangan




Judul               : Simfoni Cinta
Penulis             : Khairani
Penerbit           : Rumah Oranye         
Tahun Terbit    : Cetakan pertama 2013
ISBN               : 978-602-1588-36-9
Tebal               : 296 halaman
Harga              : Rp 45.000,-

Cuplikan cerita:
            Aluna Qhayra Alyandra—atau sering dipanggil Qayra—pernah mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya kehilangan beberapa memori kenangannya. Sejak itu, Qayra sering mendengarkan suara nyanyian seseorang dan memimpikan seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Tapi, ia tahu bahwa anak laki-laki itu penting baginya. Jadi, Qayra terus mencoba mencari dan mengingat siapa anak laki-laki yang menyanyikan simfoni itu.
            Sekarang Qayra sudah remaja. Ia mempunyai dua sahabat yang unik. Eltisha dan Zhievana. Kedua sahabatnya itu pengagum cowok-cowok keren dan tampan. Semua cowok keren yang mereka temui akan mereka sebut sebagai tipe cowok idaman yang mereka inginkan. Meskipun aneh, Qayra sangat senang mempunyai dua sahabat seperti Eltisha dan Zhievana. Dan, kali ini cowok yang jadi inceran Elt adalah Erick, sementara Zhie mengincer Dylan, seniornya yang kapten tim basket.
            Ada Fremely Permana. Siswa baru di kelas Qayra yang ternyata adalah teman Qayra sejak TK, SD, sampai SMP. Qayra tidak suka dengan Frem karena dulu cowok tersebut suka usil dan menjailinya. Namun, Qayra tidak tahu bahwa sebenarnya apa yang dilakukan Frem adalah upaya untuk selalu dekat dengan Qayra. Ya, Frem menyukai Qayra.
            Frem menyadari ada yang berubah terhadap Qayra. Ia merasa Qayra sekarang lebih pendiam dan tidak pernah merespon kejailannya. Hal itu membuat Frem ingin mencari tahu penyebab Qayra berubah. Ternyata Qayra berubah karena Denish, pacarnya yang pergi meninggalkannya. Sejak kepergian Denish Qayra selalu menutup hatinya. Ia tidak ingin jatuh cinta lagi. Qayra tidak ingin disakiti lagi.
              Namun, Frem akhirnya berhasil membuat Qayra meresponnya lagi. Apalagi saat mereka tergabung dalam satu kelompok tugas Biologi. Mereka mulai semakin dekat, meski kadang Qayra jutek saat Frem menjailinya.
            Denish kembali. Qayra ternyata tidak bisa menolak kehadiran Denish. Ternyata sekuat apapun ia melupakan, ia tetap saja memikirkan Denish. Qayra melupakan janjinya. Dan, kembali membuka hati.
            Kehidupan Qayra pun berlanjut layaknya kisah remaja lainnya. Keisengan Frem, perhatian Denish, dan kebersamaan bersama Elt dan Zhie membuat hidupnya lebih baik. Pertemuan lewat tatapan mata dengan Dylan—Ya, mereka hanya saling menatap—juga mewarnai hari Qayra. Namun, kehidupan normal itu hanya bertahan sesaat. Semua kembali memburuk saat Qayra mengetahui rahasia yang selama ini ditutupi darinya: Frem dan Denish bersaudara, Frem mencintainya, Denish mengidap penyakit mematikan, dan Arca—kakak Qayra—ternyata mengetahui siapa anak laki-laki yang selama ini hadir di mimpi Qayra, tapi membiarkannya terus mencari.




Review:
            Sebelum masuk ke-review saya terhadap novel ini, saya mau mengucapkan terima kasih dulu kepada penulis yang menghadiahkan novelnya ini pada saya. Jujur, ini adalah koleksi pertama saya untuk novel terbitan Rumah Oranye. Dan, saya makin senang saat menemukan sepucuk surat cinta yang diselipkan penulis di lembar pertama. Aih … membacanya membuat saya melayang *sedikit lebay*
            Baiklah mungkin kalian tidak ingin mendengar banyak ocehan dari saya. Dan ini review dari saya.

1.      Dari segi cover, saya suka. Warna kuning yang jadi background-nya terlihat sangat manis dan eye catching. Belum lagi tagline-nya “Jika orang-orang menginginkan akhir yang bahagia, kami justru berharap bahwa kisah kami ini adalah awal dari kebahagian-kebahagian selanjutnya.” membuat saya tidak sabar ingin menikmati kisah di dalamnya. Namun, keberadaan gambar piano itu rasanya tidak pas. Karena di dalam cerita tidak ada satu kata ‘piano’ pun. Seandainya diganti dengan gitar, kurasa lebih nyambung.

2.      Prolog yang bagi saya keren! Namun, memasuki cerita saya jadi agak tercengang. Kenapa POV-nya jadi berubah ke orang ketiga? Padahal POV orang pertama pada prolog itu bagus. Aih, seandainya penulis tetap mempertahankan POV orang pertama, pasti saya akan lebih menjiwai saat membacanya.

3.      Nama-nama tokohnya unik, tapi tidak Indonesia. Kadang belibet nyebutnya. Seperti, Elthisa yang dipanggil Elt. J

4.      Gaya ceritanya sangat meremaja. Terkadang terselip diksi dan beberapa analogi yang menjadi pemanis. Pas, enggak kebanyakan hingga buat saya mual. Dan, itu saya suka. Namun, saya sempat berhenti saat menemukan beberapa kalimat yang menurut saya rancu. *maafkan saya, karena saya lupa kalimatnya dimana* *belum sempat baca ulang*

5.      Typo masih ada. Tidak banyak. Namun, bagi saya yang berzodiak Virgo *apa hubungannya coba?* selalu menginginkan sesuatu yang perfect. Sempurna! *padahal saya kalau nulis juga kebanyakan typo-nya, hehehe*

6.      Dan, ini yang bikin saya pengin menggigit *maaf, jangan diartikan secara harfiah*. Endingnya sedikit membuat saya kecewa, meski sangat nge-twist. Saya masih tidak terima kalau ternyata anak laki-laki yang selama ini Qayra cari adalah Si Patung Yunani bermata elang itu. Saya tidak terima karena porsi dia dalam cerita ini sedikit sekali. Saya lebih berharap anak laki-laki itu si vokalis band atau cowok dari sekolah lain yang menjadi inspirasi si vokalis band terjun ke musik. Dan, yang bikin saya makin gemas *saking gemasnya sampai pengin jitak penulisnya* mengapa Qayra begitu mudahnya memaafkan si anak laki-laki (seharusnya dia marah dong sebab si anak laki-laki selama ini berada di dekat Qayra diam saja padahal Qayra terus mencarinya) dan menerima cinta si anak laki-laki, padahal dia baru saja …. ah mending baca sendiri deh novelnya. Saya benar-benar gemas dengan ending-nya sampai ingin gigit penulisnya *bercanda, ding!*
  
Oke, cukup sekian review saya. Meski saya gemas sama eksekusi akhirnya, namun secara keseluruhan saya cukup menikmati novel ini (apalagi ini novel debut penulisnya, lho!). Terbukti, saya bisa melahap novel setebal 296 halaman ini hanya dalam waktu lebih kurang 4 jam.  Memang tak pernah ada karya yang terlahir sempurna, jadi saya memaafkan akhir cerita dalam kisah ini *lihat, saya baik hati kan?*. Dan, saya akan menunggu novel terbaru dari si penulis *dapat gratis lagi, ya! (langsung ditimpuk penulis pake tabung gas)* dan berharap endingnya memuaskan saya, tidak bikin gemas seperti ini. Hehehe …. ^_^