Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Wednesday, 24 February 2016

Giveaway Berhadaih Novel Selalu Denganmu Ber-ttd Penulisnya



SELALU DENGANMU adalah  novel keempat yang berhasil saya terbitkan. Novel ini terbit di bulan April 2015 di Media Pressindo. Novel ini bergenre Adult Romance.

            Bercerita sedikit tentang SELALU DENGANMU, novel ini bercerita tentang cewek yang menuntut ilmu di sekolah fesyen di Milan. Impian terbesarnya yaitu memiliki merk yang mendunia. Tapi, suatu masalah terjadi. Ayahnya terlibat kasus korupsi. Si cewek terancam putus sekolah karena ketiadaan biaya. Tapi, si cewek tidak mau menghempaskan mimpinya begitu saja. Dia pun berjuang, meski tanpa sokongan dana dari keluarga.
            Di bawah langit Milan, bersama seorang pria bermata tosca, perjuangan si cewek pun dimulai.
            Sesuai judul postingan ini, yup saya ingin membagikan 1 eks novel SELALU DENGANMU dan hadiah kejutan untuk 1 pemenang. Bertanda tangan nggak? Tentu dong! Giveaway ini diadakan dalam rangka syukuran atas royalti semester pertama yang didapatkan novel ini. Berapa nominalnya? Ada deh! Yang pasti bikin semangat buat nulis lagi dan lagi.

            Rules untuk giveaway kali saya bikin simpel aja. Disesuaikan dengan hadiahnya juga. Rules wajib diikuti. Syarat pertama untuk menang adalah peserta yang mematuhi aturan. Adapun rules-nya sebagai berikut:
  • ·         Follow blog ini (bagi yang tidak punya blog bisa follow lewat email) dan akun twitter @KAgusta
  • ·         Share info giveaway ini dengan kalimat se-kreatif kamu. Bisa lewat twitter ataupun FB. Mention/tag 3 temanmu untuk ikut giveaway ini. Share boleh berkali-kali dan ini bisa jadi nilai plus untuk menang.
  • ·         Jawab pertanyaan berikut ini dikolom komentar dengan menyertakan id Twitter atau FB:
“Apa IMPIAN yang ingin kamu capai di tahun 2016 ini? Dan, siapa orang yang kamu harapkan berada di sisimu disaat IMPIAN itu terwujud?”
  • ·         Giveaway ini berakhir pada tanggal 8 Maret 2016 jam 23:59.
             
Itu tadi rules untuk giveaway kali ini. Ingat, jawaban yang dinilai adalah jawaban peserta yang mematuhi rules.  Dan, 1 … 2 … 3 …! Giveaway berhadiah novel SELALU DENGANMU resmi dimulai. Pastikan novel ini menjadi milikmu. ^^

Friday, 19 February 2016

Fiksi: Gombalan Playboy Jujur



Sudah setengah jam lebih aku memperhatikan dan mengikuti gadis itu. Sekarang dia menuangkan keranjang belanjaannya di meja kasir. Sambil menunggu Mbak Kasir menghitung belanjaannya, gadis itu menoleh ke arahku. Sepertinya sadar kalau aku perhatikan. Tapi, untung saja saat itu aku sedang berada di depan rak makanan ringan, sehingga aku bisa berpura-pura sedang memilih-milih camilan.
            Setelah membayar belanjaannya gadis itu keluar dengan tergesa-gesa. Bahkan dia tidak mengambil uang kembalian. Aku pun kembali mengikutinya. Namun, tetap menjaga jarak agar gadis itu tidak tahu kalau aku mengikutinya.
            Gadis itu memasuki sebuah kafe. Dan, aku pun ikut masuk. Di dalam kafe tidak begitu ramai. Hanya ada tiga meja yang di tempati. Gadis itu langsung menuju meja di sudut, dekat jendela. Sementara aku memilih meja lain, tapi masih bisa berhadap-hadapan dengannya.

            Meskipun aku tidak haus, tetapi aku tetap memesan segelas fruit punch pada waiter. Harganya lumayan mahal untuk standar uang sakuku. Tapi biarlah. Tidak masalah aku harus mengorbankan uang sakuku. Asal rencanaku bisa berjalan lancar.
            Beberapa menit kemudian minumanku datang. Pesanan gadis itu juga sudah ada di mejanya. Sekarang saatnya. Aku mengangkat gelas minumku lalu membawanya ke meja gadis tersebut.
            “Aku harap kamu tidak merasa terganggu dengan keberadaanku,” kataku seraya menarik bangku di hadapan gadis tersebut.
Kulihat kening gadis itu mengeryit. Mungkin bingung dihampiri olehku.
“A-apa kamu mengenalku?” tanya terbata-bata seraya menyelipkan helai rambutnya di telinga.
Aku menggeleng lalu tersenyum. Bukan senyum mesum tentunya.
“Ta-tapi kamu dari tadi membuntutiku, kan? Apa kamu punya niat jahat padaku?” Gadis itu gelisah. Wajah manisnya juga mulai pucat.
Sekali lagi aku memberikannya senyuman. “Aku memang membuntutimu. Tapi, percayalah, aku tidak punya sedikitpun niat jahat.”
Gadis itu terlihat masih tidak percaya. Dia masih memandangiku takut-takut.
“Sejujurnya aku sengaja membuntutimu hanya ingin berkenalan denganmu. Jujur, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak berkenalan denganmu. Apa itu salah?”
Gadis itu diam. Tapi aku tahu rasa takutnya mulai menguap. Kini dia tidak lagi menatapku takut-takut. Melainkan menatapku lekat-lekat.
“Ya tentu saja salah. Kau membuatku takut.”
Aku tersenyum dan menatapnya teduh. “Maaf kalau aku membuatmu takut. Sebenarnya aku tidak inginbertindak seperti itu. Tapi jujur, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mengajak kamu berkenalan. Cuma cara ini yang terpikirkan olehku. Percayalah, aku berkata jujur. Aku bukan orang jahat. Aku hanya cowok jujur, yang tidak bisa membohongi diri sendiri lagi untuk ingin mengenalmu lebih dekat.”
Gadis itu semakin menatapku lekat. Seolah menilaiku. Memastikan ucapanku benar.
“Aku berkata jujur. Aku jujur kalau ingin memuji kalau kamu manis sekali ...”
Gadis itu membekap mulutnya dengan tangannya. Terlihat kaget.
“Aku tahu kamu terkejut. Kamu pasti menganggap aku cowok gila. Cowok iseng. Tapi, jujur aku tidak bisa membohongi kata hatiku. Kuharap kamu bukan orang yang merasa heran dengan kejujuran. Kuharap lagi kamu adalah orang yang bisa menghargai kejujuran tersebut.”
Gadis itu tersenyum. Senyum pertama yang berhasil kudapatkan darinya.
“Namaku Ferdi. Sekarang boleh aku tahu siapa namamu?”
“Devi.”
“Namamu cantik sekali. Secantik orangnya.”
Hari itu dengan kejujuranku, aku berhasil berkenalan dengan gadis manis yang kubuntuti itu. Ternyata tidak hanya sampai di situ. Sebulan kemudian aku resmi berpacaran dengannya. Ah, tidak menyangka gombalan cowok jujurku mujarab sekali.
***
Gadis berseragam putih abu-abu itu duduk di dalam halte. Sendirian. Wajah cantiknya terlihat mengkilap karena keringat.
            Aku datang mendekat. Gadis itu menoleh saat aku duduk di sebelahnya.
            “Aku harap kamu tidak terganggu dengan keberadaanku,” kataku seraya melemparkan senyum terbaik yang kupunya.
            Gadis itu mengangguk pelan lalu kembali menatap ke jalanan.
            “Sejujurnya, aku sudah sejak tadi memperhatikanmu,” kataku lagi.
            Gadis itu mengangguk-angguk kecil. Tapi masih tetap tidak berkata-kata.
            “Sejujurnya pula, aku sudah sejak lama ingin duduk sedekat ini denganmu. Aku tidak menyangka hari ini keinginanku menjadi nyata.”
            Kini gadis itu menatapku lekat. Lalu dia berkata, “Kamu mau apa?”
            Aku kembali memberikannya senyum terbaikku dan menjawab, “Tenang saja, aku tidak ingin berbuat jahat atau iseng padamu. Aku cowok baik-baik. Kalau boleh jujur, aku hanya ingin berkelanan denganmu. Jujur, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak berkenalan denganmu.”
            “Oh begitu.”
            “Mungkin kamu akan menganggap aku gila. Tapi, aku akan marah pada diriku sendiri kalau tidak berkata jujur padamu ... kalau kamu cantik sekali.”
Gadis itu mendengus. “Gila!”
“Jujur, aku memang sudah gila. Tergila-gila padamu.”
Kali ini gadis itu melotot padaku. Membuatnya terlihat semakin cantik. Dan aku masih setia memasang senyum.
“Kurasa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Percayalah. Aku hanya ingin berkata jujur. Kuharap kamu bisa memahami kejujuran kata-kataku. Dan kuharap lagi bisa menghargainya.”
Gadis itu mengangguk-angguk. “Ya. Ya. Ya. Aku memahami kejujuranmu. Lalu?”
Aku berdiri di hadapannya lalu menyodorkan tangan. “Seperti yang kubilang tadi, aku hanya ingin mengenalmu.”
“Ooh!”
“Namaku Ferdi. Sekarang aku boleh tahu namamu?”
“Sisil.”
“Nama yang can—”
Gadis itu mengangkat tangannya lalu segera memotong ucapanku. “Aku tahu namaku cantik. Secantik aku. Iya kan?”
Aku mengangguk.
“Katamu tadi kamu berkata jujur kalau menyukaiku kan?”
“Iya.” Aku menjawab.
“Kalau begitu boleh aku bertanya sesuatu?”
Aku mengiyakan dengan senang hati.
“Kamu kenal Devi?”
Aku terkejut. Mulutku rasanya mau jatuh. Tergeragap aku bertanya, “Ka-kamu siapa?”
“Oh, aku juga ingin jujur padamu. Aku akan marah pada diriku sendiri kalau tidak mengatakan yang sebenarnya ... kalau aku ini sahabatnya Devi. Gadis yang kamu buntuti dan ajak kenalan sebulan lalu. Seminggu kemudian kamu pacari. Kamu masih ingat sama Devi, kan? Pasti masih ingat dong! Kan baru dua hari lalu kamu putusin dia begitu saja.”
Jantungku rasanya mau berhenti berdetak mendengar kata-kata Sisil. Jadi, gadis cantik yang tengah kugombali ini sahabatnya Devi? Astaga!
Tanpa buang-buang waktu lagi aku segera kabur dari hadapan Sisil. Ambil langkah seribu. Dan, tak pernah menoleh lagi.
Sial! Gombalan cowok jujurku kali ini kena batunya.

Kamar Hijau, 03 Januari 2015,
23.27 WIB

Thursday, 24 April 2014

Perjalanan Cinta Si Boneka Mama


Judul               : Love Ago
Penulis             : Mitha Juniar
Penerbit           : Grasindo
Tahun Terbit    : Cetakan pertama, 2014
ISBN               : 978-602-251-434-3
Tebal               : 188 halaman
Harga              : Rp 37.000,-





Sinopsis:

Thalita Purnama--Thata--merasa hidupnya seperti boneka mamanya. Apapun yang terkait tentang Thata sudah diatur oleh mamanya. Bahkan untuk pendamping hidup pun Mama sudah memyiapkannya untuk Thata, tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Ben, teman Thata sejak SD, itulah lelaki yang dipilihkan mamanya untuk Thata.

Sebenarnya Thata ingin menolak perjodohan ini. Terlebih lagi ia kenal siapa Ben, anak bandel yang dulu selalu mengusili dan menfitnah dirinya dan teman-temannya. Thata tidak bisa melupakan semua kejahatan Ben semasa kecil dulu. Thata sangat benci pada Ben yang angkuh dan sombong. Tapi, lagi-lagi Thata terpaksa menerima semua titah mamanya karena tidak ingin menjadi anak durhaka.

Setelah penjodohan, Ben mengajak Thata untuk kencan. Ben membawanya ke tempat bliard. Thata sungguh tidak menikmati kencan ini, terlebih saat melihat Ben yang asyik bercanda dengan para pelayan wanita. Thata pun memilih untuk jalan-jalan sendiri dan bertemu dengan sahabat sekaligus rivalnya saat SD, Dwiranto--Ranto.

Sejak pertemuan itu Thata sering jalan dengan Ranto. Bahkan mereka menghadiri acara 100 hari kematian Febri, teman mereka yang menderita Osteomalacia--kelainan pertumbuhan tulang. Thata yang tidak tahu kalau Febri telah berpulang menangis saat sampai di rumah Febri. Ternyata Febri adalah cinta monyetnya Thata.

Hubungan Thata dan Ranto semakin dekat. Apalagi saat Thata menjadi sekretaris Ranto. Thata juga mulai merasakan getaran cinta pada lelaki itu. Ben yang menyadari kedekatan Thata dengan Ranto pun marah. Dengan akal busuknya, Ben pun melakukan berbagai cara untuk menjauhkan Thata dari Ranto, salah satunya membayar preman untuk memukuli Ranto.

Di sisi lain, Thata berkenalan dengan Andry. Andry adalah anak Pak Rizal--sopir taksi langgan Thata--yang mengindap penyakit osteomalacia. Sosok Andry mengingatkan Tahta pada Febri. Saat melihat Andry, Thata merasa melihat Febri. Meski memiliki kekurangan, ternyata Andry seorang motivator. Hal itu tentu saja menumbuhkan kekaguman di hati Tahta.

Perjalanan cinta Thata pun semakin penuh liku. Perasaannya kian diuji saat orang-orang yang dicintainya pergi meninggalkannya satu per satu.






Review:

Sebelumnya aku mau mengucapkan selamat pada Mitha Juniar karena telah berhasil menerbitkan 8 buah novel. Wow ... suatu pencapaian yang luar biasa menurutku. Mengingat sampai detik ini, aku belum juga menerbitkan satu novelpun.

Love Ago adalah novel pertama karya Mitha yang aku baca. Kalau boleh jujur, ada rasa kecewa saat aku membaca halaman demi halaman novel ini. Mungkin, rasa kecewa itu timbul karena aku terlalu tinggi berharap akan mendapatkan sesuatu yang 'wah' pada novel ini. Apalagi teman-teman aku banyak yang mengagumi karya Mitha.

Baiklah, terlebih dahulu aku akan menjelaskan beberapa hal yang membuatku kecewa tersebut.

1. Terlalu lambatnya tokoh Andry muncul. Jujur, ini kekecewaan aku yang pertama. Karena di blurb aku menemukan 7 kali nama Andry disebutkan, aku jadi berpikir Andry adalah tokoh yang sangat penting dalam cerita ini. Dan menurut aku, tokoh penting dalam cerita selalu muncul di awal-awal. Tapi, di sini tokoh Andry baru muncul pada bab 10--itupun cuma sekedar lewat mengantarkan Thata ke kantor. Setelah itu tokoh Andry pun tak mendapatkan porsi yang banyak dalam cerita. Malah tokoh Ranto lebih mendominasi cerita ini daripada Andry.

2. Panggilan 'Mimi' oleh Thata untuk neneknya. Sungguh ini benar-benar buat aku melongo beberapa detik. Mimi? Enggak salah tuh. Selama ini aku tahunya Mimi itu panggilan lain untuk Ibu, bukan Nenek. Jadi, panggilan Mimi untuk neneknya oleh Thata sungguh tidak cocok--dan nyaman--menurutku. Terlebih lagi sosok neneknya itu digambarkan wanita berumur 80 tahun. Namun, dari dialognya aku malah menangkap seperti abege-abege gitu.

3. Karakter Thata yang menurutku labil dan kekanak-kanakan--dan ini bertentangan dengan pandangan tokoh lain yang menganggap Thata sosok yang hebat dan kuat. Kenapa saya bilang Thata labil? Itu sih gampang. Manusia apa sih yang bisa tersenyum setelah beberapa menit sebelumnya menangis meraung-raung? Manusia labil kan? *heheheh

4. Aku berharap akan menemukan banyak info tentang Osteomalacia. Namun, lagi-lagi aku harus kecewa karena minim sekali info yang kudapatkan tentang Osteomalacia.

5. Ada beberapa keanehan. Pertama: Saat Thata melihat Ben ia mengatakan tubuh Ben sixpack. Yang anehnya darimana Thata tahu Ben punya perut sixpack kalau saat itu Ben menggunakan baju yang lengkap? Kalau atletis mungkin itu masih logis. Kedua: Thata belum pernah kenal dan bertemu dengan Emaknya Andry. Tapi, kenapa bisa Emak Andry sengaja membuatkan kebaya untuk Thata. Ukuran kebayanya gimana tuh? Dan Ketiga: Pada halaman 173, di bagian atas Thata sudah diceritakan meminum segelas susu buatan mamanya. Tapi, kenapa pada bagian selanjutnya, Mama Thata baru menyerahkan susu buatannya pada Thata? Lalu, susu yang tadi diminum Thata itu buatan siapa?

6. Beberapa kalimat rancu. Pertama: Karena ia belum sempat membacanya sejak 2 hari lalu novel itu dibeli dari toko buku (hal. 4). Lebih baik: Karena ia belum sempat membaca novel itu sejak dibelinya 2 hari yang lalu.  Pantas saja jika Kalila selalu rindu pada ummi-nya (hal 11). Lebih baik: Pantas saja Kalila selalu rindu pada ummi-nya. Dan, masih ada beberapa lainnya di halaman 99 dan halaman 165

7. Beberapa typo. Ya, walau sebenarnya ini sesuatu yang sering ada di setiap novel.

8. Keberadaan puisi. Jujur, aku tidak tahu maksud dan fungsi dari puisi itu. Jadi, kalau puisi-puisi itu dihilangkan nggak bakal mempengaruhi cerita. (lebih hemat halaman)


Hmm … selanjutnya kelebihan dari novel ini. Semula aku berharap dapat banyak menemukan kelebihan naskah ini, tetapi *maaf Mitha* aku hanya menemukan sedikit (2 hal saja), yaitu: covernya yang cantik dan manis dan pesan cerita yang menurutku sangat perlu kita renungkan: bahwa jangan menilai seseorang dari tampilan luarnya.

Baiklah, sekian review dariku untuk novel Love Ago karya Mitha ini. Saya memberikan 2 dari 5 bintang untuk kisah Thata ini. Terima kasih. ^-^

Pekanbaru, 24 April 2014

@Kagusta